Wednesday, November 21, 2018

contoh kritik seni


Contoh 1:

Judul Lukisan              : Potrait Seorang Perempuan dengan Gitar
Pelukis                         : Risa Rahmawati
Material                       : Mix Media
Media                          : Kanvas 40cm x 59cm


Narasi

Media yang digunakan dalam lukisan di atas tergolong dalam mix media, dimana lebih dari satu media digunakan dalam pembuatan lukisan ini. Diantara media yang digunakan ialah cat minyak, cat poster dan serbuk yang menyerupai perak. Dikatakan bahwa penggunaan mix media tersebut bertujuan agar dapat menimbulkan kesan meriah, berwarna dan tidak monoton.

Bagi seniman-seniman profesional dan orang-orang yang sudah mengenal seni rupa dengan sangat dalam, karya ini memang bisa dibilang tidak ada apa-apanya. Namun terkandung makna yang begitu dalam di balik lukisan ini. Seperti yang diungkapkan senimannya, lukisan ini dibuat untuk ibunya dan atas dasar kasih sayang kepada orang tuanya. Dia berfikir jika lukisan buatannya ini memenangkan perlombaan, maka dia akan mengajak kedua orang tuanya menyaksikan pameran perlombaan seni rupa itu, dia berharap orang tuanya bisa bangga kepadanya.

Banyak kelemahan dalam lukisan ini, diantaranya adalah pemilihan warna yang tidak variatif karena warna-warna yang dipilih banyak berupa warna primer dan sedikit sekali digunakan warna sekunder apalagi warna tersier, jadi warna-warna pada lukisan tersebut cenderung tidak matang.

Konsep lukisannya sendiri, sang seniman ingin menunjukan suatu gambaran bagaimana perasaan seseorang (pelukis) ketika tengah memainkan gitar. Perasaan tersebut adalah perasaan yang penuh warna, meliuk-liuk dengan tenang dan gemerlap bagaikan bintang. Dan semua perasaan tersebut telah tertuang dalam lukisan itu dengan perwakilan-perwakilan tertentu pada objek-objek atau komponen-komponen lukisan.

Meskipun lukisan ini masih jauh dibanding karya-karya seniman profesional, namun ini adalah langkah awal yang baik bagi pelukis untuk terjun di dunia seni rupa.


MENGIDENTIFIKASI

Deskripsi
Konsep lukisannya sendiri, sang seniman ingin menunjukan suatu gambaran bagaimana perasaan seseorang (pelukis) ketika tengah memainkan gitar. Perasaan tersebut adalah perasaan yang penuh warna, meliuk-liuk dengan tenang dan gemerlap bagaikan bintang. Dan semua perasaan tersebut telah tertuang dalam lukisan itu dengan perwakilan-perwakilan tertentu pada objek-objek atau komponen-komponen lukisan.

Formal Interpretasi

Media yang digunakan dalam lukisan di atas tergolong dalam mix media, dimana lebih dari satu media digunakan dalam pembuatan lukisan ini. Diantara media yang digunakan ialah cat minyak, cat poster dan serbuk yang menyerupai perak. Dikatakan bahwa penggunaan mix media tersebut bertujuan agar dapat menimbulkan kesan meriah, berwarna dan tidak monoton.

Penilaian (Evaluasi)        

Banyak kelemahan dalam lukisan ini, diantaranya adalah pemilihan warna yang tidak variatif karena warna-warna yang dipilih banyak berupa warna primer dan sedikit sekali digunakan warna sekunder apalagi warna tersier, jadi warna-warna pada lukisan tersebut cenderung tidak matang.

Simbol, Jenis dan Fungsi Karya Seni Rupa

Konsep lukisannya sendiri, sang seniman ingin menunjukan suatu gambaran bagaimana perasaan seseorang (pelukis) ketika tengah memainkan gitar. Perasaan tersebut adalah perasaan yang penuh warna, meliuk-liuk dengan tenang dan gemerlap bagaikan bintang

Kekurangan
Banyak kelemahan dalam lukisan ini, diantaranya adalah pemilihan warna yang tidak variatif karena warna-warna yang dipilih banyak berupa warna primer dan sedikit sekali digunakan warna sekunder apalagi warna tersier, jadi warna-warna pada lukisan tersebut cenderung tidak matang.
Kelebihan
Meskipun lukisan ini masih jauh dibanding karya-karya seniman profesional, namun ini adalah langkah awal yang baik bagi pelukis untuk terjun di dunia seni rupa.

Kelebihan

Meskipun lukisan ini masih jauh dibanding karya-karya seniman profesional, namun ini adalah langkah awal yang baik bagi pelukis untuk terjun di dunia seni rupa.



Contoh 2:



Identitas Karya Seni

Pelukis             : Hendra Gunawan
Judul lukisan   : “mencari kutu rambut”
Bahan lukisan  : Cat Minyak
Media                :  canvas 84cm x 65cm
Tahun 1953

Narasi
Hendra Gunawan adalah salah satu seniman lukis Indonesia. Dia pernah ditahan selama 13 tahun dimulai pada tahun 1965 hingga 1978. Selama didalam penjara beliau tetap berkarya membuat lukiasan bertema tentang kehidupan masyarakat pedesaan pada zamannya. Seperti panen padi, berjualan buah, kehidupan nelayan. Ada salah satu karyanya yang berjudul “mencari kutu rambut” yang dibuat pada tahun 1953. Lukisan ini menampilkan subjek matter yaitu seorang wanita yang sedang duduk mencari kutu wanita yang sedaang memangku anak perempuanya yang memegang wayang. Lukisan ini dibuat dengan media cat minyak diatas kanvas dengan ukuran 84cm x 65cm.

Deskripsi
Dalam lukisan “mencari kutu rambut” nampak Hendra menampilkan dua sosok wanita dewasa dengan memakai baju kebaya sederhana dengan rok menggunakan jarik, dan satu anak kecil yang sedang memegang wayang dengan dipangku salah seorang wanita dewasa. Wanita yang sedang mencari kutu menggunakan baju berwarna biru keputihan yang warnanya hampir sama dengan warna backgroun yang ingin ditampilkan dengan motif titik-titik berwarna-warni, dengan menggunakan rok dari jarik warna coklat, dengan rambut diikat.
Ekspresi wanita tersebut terlihat serius mencari kutu pada wanita yang kedua. Wanita yang kedua memakai baju kebaya sederhana juga berwarna putih dengan motif, dan menggunakan jarik dengan warna coklat namun hampir sama dengan warna tanah yang ditampilkan, wanita kedua terlihat rambutnya terurai panjang menandakan bahwa dia yang sedang dicari kutu rambutnya. Tanganya sedang memegang kapala anak kecil dengan rambut agak pendek dengan baju berwarna merah muda yang memegang sebuah wayang. Kemudian background berwarna biru dan terlihat seperti ada pohon. Lukisan ini cenderung menggunakan warna yang soft dengan background yang sederhana. Kemudian warna kulit ketiganya sama, coklat keputihan.

Analisis formal
Lukisan ini cenderung bergaya ekspresionis dengan tampilan warna dan background yang sederhana kemudian warna biru yang masuk pada warna baju wanita pertama, kemudian warna tanah yang masuk pada warna jarik wanita kedua. Kebaya sederhana merupakan pakaian tradisional jawa yang sering dikenakan oleh wanita-wanita pada kesehariannya, dengan bertapihkan jarik sebagai kombinasi pakaian yang ia pakai. Kemudian dengan wanita pertama mengikat rambutnya sehingga mirip seperti disanggul itu juga menerangkan tentang kebudayaan jawa. Kemudian pada wanita kedua dengan tanda yang ada dijidatnya berupa warna hijau, merupakan sebuah kebiasaan wanita di jawa jika iya baru melahirkan. Rambut-rambut panjang yang terurai juga mengesankan bahwa itu wanita jaman dahulu yang masih kental dengan tradisi jawa. Kemudian adanya bentuk wayang yang sedang dipegang anak kecil sebagai mainan menegaskan bahwa kebiasaan mencari kutu rambut yang ditampilkan merupakan kebiasaan masyarakat dijawa.

Evaluasi atau penilaian
Seniman seperti ingin menampilkan sebuah kebiasaan yang terjadi di jawa yang biasanya dilakukan oleh para wanita untuk mengisi waktu senggangnya dengan duduk dan mencari kutu pada wanita lainnya. Seniman menampilkan  salah satu bentuk wayang yang divisualkan sedang dipegang atau dimainkan anak kecil yaitu ingin mempertegas bahwa ini adalah kebudayaan yang terjadi dijawa. Kemudian pakaian kebaya juga menjadi tanda bahwa seniman sedang ingin menampilkan salah satu kebuadayaan yang ada di Jawa bahwa ada salah satu kegiatan yang terjadi untuk menjalin keharmonisan sebuah sodara atau keluarga salah satunya adalah berkumpul dan mencari kutu rambut.
Kelebihan
Karya lukisan berjudul “mencari kutu rambut” ini sangat menarik, seniman ingin menampilkansebuah kebudayaan atau kegiatan masyarakat desa khususnya para wanita. Dengan gambaran yang jelas yang mendukung judul sehingga apa yang dipikirkan apresiator tidak jauh-jauh dari judul yang ditampilkan.

Kekurangan
Namun ada sedikit yang menjadikan kekuranga yaitu pada backgroun yang dibuat kurang menampilkan bahwa itu adalah kebiasaan masyarakat pedesaan. Terlalu sederhana dan tidak mendukung subjek matter yang ditampilkan. Padahal biasanya orang yang mencari kutu rambut itu duduk didepan rumah. Kemudian untuk proporsi manusia asli mungkin kurang diperhatikan sehingga  untuk kaki wanita kedua cenderung pendek. Kemudian untuk warna background dengan baju wanita pertama itu sedikit membingungkan karya warnanya menyatu, kemudian warna tanah juga yang disamakan dengan jarik wanita kedua itu agak kurang menarik.

Contoh 3:


Judul              : Harmonis
Pelukis            : Ahmad Savic A
Tahun             : 2009
Media             : cat air

Bentuk (form) dan tanda (symbol) yang digunakan dalam karya
Karya seni lukis milik Ahmad Savic ini merupakan lukisan yang sekiranya mengungkapkan bentuk sebuah pohon. Tak terdapat pohon lain disekitarnya sebagai background ataupun subjek figuran. Hanya sebuah tiang listrik yang menemani dan tampak berdekatan, namun subjek yang lebih ditekankan adalah pohon tersebut. Bentuk dari pohon ini tidak sederhana, banyak sekali ranting yang menjadi cabang dari bawah hingga ke atas. Tidak dapat ditebak pohon apakah ini, yang jelas bentuk cabang-cabang yang banyak ini menandakan merupakan pohon yang beranting banyak. Bukan pohon rimbun nan hijau sebab dari bentuk daun-daunnya yang ekspresif terdapat secara acak pada ranting yang banyak. Namun dapat dilihat dari bentuk pohon ini yang menjulang ke atas hingga tak terlihat ujung batangnya merupakan pohon yang besar. Bentuk ranting-ranting pohon yang meliuk-liuk ini makin terlihat jelas bahwa sedang diambil perspektifnya dari bawah.

Pohon menyimbolkan sebuah kehidupan yang utuh dan pasti, kepastian ini tergambar dari karakter pohon yang pada umumnya memiliki batang yang kuat. Sesuatu yang berhubungan dengan alam artinya hidup dan pohon merupakan salah satu bagian dari alam. Sedangkan tiang listrik adalah penyangga dari listrik sendiri seolah-olah menjadi simbol dari sesuatu yang lain, lain dari sesuatu yang hidup. Listrik merupakan sesuatu yang tidak hidup dan dapat mematikan. Apalagi listrik itu dapat mematikan sebuah pohon pada kejadian tertentu.

Unsur-unsur visual dan prinsip estetik yang digunakan
Lukisan “harmonis” ini tidak mengkomposisikan subjek utama terlalu tengah, sehingga tidak terlalu statis namun tetap fokus pada subjek utama. Penyusunan pohon besar inipun dikomposisikan menjulang ke atas serong kanan sehingga lebih indah. Pengkomposisian sebuah tiang listrik yang tegak menjulang dari bawah menjadi sorotan yang estetik ketika puncaknya semakin berdekatan dengan puncak pohon. Garis-garis dari pembentukan ranting pohon seolah menjadi ciri khas tersendiri dalam karya ini, sebab menjadi perpaduan pula pada garis-garis yang terbentuk dari kabel listrik di sebelahnya. Hal ini menjadikan komposisi yang menarik. Begitu pula perulangan daun-daun abstrak seolah menjadi taburan yang membuat karya ini lebih indah.

Warna yang digunakan bukan merupakan warna asli dari sebuah pohon, Savic menggunakan warna-warna campuran seperti warna orange, kuning dan biru. Hal ini membuat lukisan yang dibuatnya menjadi estetis dan menarik. Warna pohon yang pada umumnya hijau dan coklat menjadi lebih bervariasi. Meski jika Savic menggunakan warna-warna ini sebagai background nuansa, warna-warna inipun masih menjadi unsur estetik dalam karyanya.

Kesan yang anda peroleh dari hasil pengamatan
Dalam lukisan ini meskipun hanya terdapat sebuah subjek pohon dan tiang listrik namun memiliki makna yang lebih dalam. Bukan sekedar indahnya pohon yang berdiri di dekat tiang listrik namun lebih dari itu. Kesan rimbun tidak diperoleh namun dari pohon itu sendiri dapat mengesankan besar dan tinggi, begitu pula pada tiang listriknya yang menggambarkan tentang ketinggian. Hal yang berdampingan ini menggugah perasaan tertentu yang tercipta dalam hati, seperti pada unsur-unsur yang sama antara pohon dengan tiang listrik. Ada garis-garis yang menjadi perpaduan keserasian yang mengesankan keharmonisan satu sama lain. Persamaan ketinggian menjadi hal yang indah ketika dilihat dari sisi bawah, hal ini sangat terlihat pada penunjukan bahwa subjek ini berada pada posisi tinggi. Seolah-olah mengesankan pada sesuatu yang unggul dan tinggi. Selain itu seolah hanya dari perspektif bawah dapat melihat segala sesuatu yang harmonis. Seperti yang terlihat pada perpaduan garis kabel dan garis-garis yang terbentuk dari ranting pohon. Penyatuan ujung pohon dengan ujung tiang listrik menjadi penyatuan suatu hubungan yang kukuh yang terbentuk dari sesuatu yang kuat yaitu pada karakter batang pohon dengan batang tiang listrik. Bercak-bercak daun yang tidak dimiliki oleh tiang listrik menjadi penghias antara jalinan pohon dengan tiang listrik. Keseluruhan lukisan ini mencerminkan sebuah keharmonisan yang tak terduga.

Penilaian anda terhadap gagasan, teknik dan media yang digunakan dalam kaitannya dengan ekspresi yang dihasilkan
Menarik sekali lukisan ini mendapatkan gagasan dari sebuah pohon yang pada dasarnya menyatu dengan alam namun Savic menampilkan dalam keadaan berada di perkotaan. Bukan menjadi sosok pohon yang paling mendominasi keadaan kering di kota namun gagasannya dalam menampilkan subjek utama adalah merupakan bentuk keharmonisan yang unik.

Teknik yang digunakan dalam lukisan ini adalah teknik aquarel, merupakan teknik yang tepat untuk lukisan pada media kertas aquarel. Cat air yang digunakanpun sesuai dengan penggambaran nuansa yang diharapkan. Teknik pelukisan wet on wet menjadikan pembentukan warna nuansa membaur dengan warna kertas. Sehingga gradasi hilang yang tercipta dalam lukisan ini berhasil menjadi background yang indah.

Media kertas memang merupakan media yang tepat ketika menggunakan cat jenis cat air. Apalagi kertas yang digunakan memiliki tekstur yang kuat sehingga menunjang pada teknik. Tekstur kertas ini memberikan peleburan warna menjadi sempurna, air yang digunakan Savic ini mampu teresap sempurna pada kertas walaupun ada beberapa detail bagian yang kurang diperhatikan.

Kesimpulan atau solusi untuk perbaikan karya atau peningkatan apresiasi
Penyatuan bentuk menjadi hal yang patut diperhatikan sebab menjadi hal utama dalam lukisan ini. Meskipun Savic menggunakan ekspresi yang kuat namun perspektif perlu diperhatiakn terutama pada pendekatan antara tiang listriik dan pohon. Pemberian sedikit detail pada bagian tertentu akan menambah keindahan lukisan ini. Seperti pada tiang listrik yang kurang diperhatikan karena teralalu memperhatikan tonjolan bentuk pohon. Sedangkan pohonnya sendiri boleh juga jika ditambahkan sedikit daun-daun yang sama agar karakter pohon lebih kuat. Namun demikian lukisan ini sudah cukup baik dilihat dari segi ekspresi, hanya perlu pengembangan teknik saja jika ingin membuat karya berikutnya. Akan lebih baik lagi jika lukisan ini di kemas dalam figura yang simpel dan elegan.
Menyatakan sebuah pohon tidak perlu menunjukkan keseluruhan bentuk pohon tersebut, bentuk visualisasi hanya menjadi subjek dari inti lukisan. Makna yang terkandung dalam lukisan ini lebih ditekankan daripada perwujudan. Sedangkan perwujudan estetis yang ekspresif disini lebih ditekankan daripada bentuk utuh. Lukisan ini memperlihatkan ekspresi yang tinggi dalam pembentukannya. Keestetisan menjadi tampilan unggulan yang paling menonjol dan itulah yang merupakan sisi indah dari sebuah keharmonisan.

Keharmonisan bukan merupakan suatu yang terdiri atas segala hal yang sama, namun terdiri atas hal yang berbeda jauh. Sisi indah dari keharmonisan adalah kesamaan hal kecil yang tak terduga dan berjalan begitu saja. Seperti segala sesuatu yang alami, ada kesenjangan yang dapat terlihat dengan jelas dan gamblang namun ada jembatan lembut yang menyatukan keindahan dari sebuah jalinan. Perbedaan kecil dapat menjadi penghias yang mengkukuhkan sebuah hubungan, terkadang sesuatu yang menjadi pembeda itu adalah justru menjadi penyatu.

Contoh 4:


 1. Deskripsi Karya
Lukisan karya pelukis Mulyo Gunarso ini berjudul “Impian Sarang”. Karya ini digarap pada tahun 2012 dengan ukuran 130x150 cm menggunakan cat akrilik pada kanvas. Lukisan yang berjudul “Impian Sarang” tersebut menampilkan subject matter sebuah sarang burung dengan keadaan alam yang indah di dalamnya. Alam yang digambarkan berupa gunung dan persawahan yang keadaannya masih alami dan indah. Subjek pendukung pada lukisan berupa pohon kering tau mati yang terlihat seperti habis dibakar dan awan pada background yang digarap secara transparan. Unsur warna yang terdapat pada subject matter adalah : warna coklat pada sarang, warna hijau pada pepohonan, kuning pada sawah dan biru keabu-abuan untuk warna gunung. Sedangkan untuk background, terdapat warna putih dan abu-abu yang terlihat transparan.

 Dari segi teknik pembuatan karya, lukisan “Impian Sarang” digarap dengan teknik dry brush yaitu teknik sapuan kering. Bentuk atau form dari karya Gunarso ialah realistik dengan gaya surealisme. Proses penciptaannya terlihat penuh persiapan dan cukup matang tercermin dari hasil karyanya yang rapi, rumit, dan tertata. Gunarso sepertinya asyik bermain-main dengan komposisi. Ia mencoba menyampaikan kegelisahanya dalam bentuk karya dua dimensi yang menyiratkan segala kegelisahan melalui torehan kuas di kanvas dengan pilihan warna- warna yang menjadi karakter dalam karya lukisnya.  

2. Analisis Formal
Representasi visual ditampilkan dengan bentuk realis yang terencana, tertata dan rapi, sesuai dengan konsep realis yang menyerupai bentuk asli suatu objek. Penggunaan gelap terang warna juga telah bisa memvisualisasikan gambar sesuai nyata. Penggarapan background yang transparan dengan warna abu-abu kontras dengan warna sarang yang entah disadarinya atau tidak. Sehingga jika dilihat dari kejauhan, background itu sendiri malahan lebih menarik perhatian audien dari pada subjek utamanya.

Dalam berkarya Gunarso mampu mengemas karyanya hingga memiliki karakter tersendiri yang mencerminkan bagian dari kegelisahan, latar belakang serta konflik yang disampaikan kepada audien, bagaimana dia mampu menarik dan memancing audien untuk berinteraksi secara langsung dan mencoba mengajak berfikir tentang apa yang dirasakan olehnya tentang issu yang terjadi di dalam negerinya, kegelisahan tentang kerusakan yang semakin parah.

3. Interpretasi
Dalam setiap karya seni sudah pasti terdapat makna dan pesan yang ingin disampaikan oleh seniman kepada audien atau masyarakatumum. Agar dapat mengetahui makna dan pesan dalam karya seni yang ingin disampaikan, kita membutuhkan intepretasi/ penafsiran untuk memaknainya yang didahului dengan mendeskripsikan. Dalam mendeskripsikan suatu karya seni, setiap orang mungkin saja sama karena mendeskripsikan adalah berkaitan dengan apa yang dilihatnya, tetapi dalam menafsirkan akan berbeda karena adanya perbedaan sudut pandang atau paradigma dari setiap orang.
 Dalam lukisan yang berjudul “Impian Sarang” ini, sang seniman mencoba menampilkan keadaan negeri yang telah banyak kerusakan. Kerusakan tersebut digambarkan pada background yaitu pohon-pohon yang kering tak berdaun dan mati yang seperti terlihat habis dibakar. Selain itu, seniman juga menampilkan gambar asap atau awan yang menggambarkan polusi udara yang dihasilkan dari pabrik, gas buang kendaraan bermotor, dan juga pembakaran hutan yang sering terjadi di negeri kita. Sebenarnya kerusakan yang sudah terjadi di negeri kita bukan hanya pembakaran hutan yang mengakibatkan polusi udara yang parah, tetapi masih banyak lagi seperti banjir, tanah lonsor, kekeringan dan lain sebagainya. Pada lukisan ini seniman memilih pembakaran hutan sebai gambaran kerusakakan negeri kita karena  setiap tahun hal itu terjadi dan terus berulang-ulang.

Kemudian pada lukisan ini juga terdapat sebuah sarang burung dengan keadaan alam yang indah di dalamnya. Sarang burung ini diibaratkan oleh seniman sebagai bumi atau negeri kita, yaitu sebagai tempat tinggal, tempat berlindung dan tempat beraktivitas sehari-hari. Sedangkan alam yang indah merupakan impian dari keadaan negeri kita yaitu tanah yang subur, udara yang segar tanpa polusi, air yang jernih dan keadaan yang damai. Keadaan seperti itulah yang sebenarnya diimpikan oleh seniman pada negeri kita.

Perkembangan zaman yang begitu pesat mengakibatkan manusia menjadi serakah, egois, individualis dan acuh tak acuh terhadap sesama juga terhadap alam. Hal inilah yang mengakibatkan kerusakan di negeri kita. Gunarso lewat karya lukisannya ini seolah ingin memberi penyadaran kepada kita, untuk memulai menyelamatkan dan melestarikan alam negeri kita.

5. Penilaian
Penialaian keindahan suatu karya seni tidak hanya berdasar objek yang dilukis tetapi juga menyangkut isi dan makna. Pada lukisan “Impian Sarang” ini merupakan karya yang berkualitas, karena selain unsur visualnya digarap dengan serius, lukisan ini juga sarat akan pesan moral. Lukisan ini tidak memesis mutlak tanpa makna, karena dalam lukisan ini terdapat emosional dan personality Gunarso untuk menyampaikan gagasan.

Contoh 5:

Identitas Karya
Judul karya                  : The Scream (Jeritan)
Nama Seniman            : Edvard Munch
Bahan                          : kadmium kuning, merah terang, biru laut dan pensil di atas Karton
Ukuran                         : 91 cm x 73,5 cm
Tahun Pembuatan       : 1893

1. Deskripsi Karya
Karya lukis oleh Edvard Munch yang berjudul The scream adalah sebuah lukisan ekspresionsis yang telah banyak menjadi inspirasi oleh seniman lain yang berbeda aliran. Lukisan ini dianggap oleh banyak orang sebagai karyanya yang paling penting. Lukisan ini  melambangkan manusia modern yang tercekam oleh serangan angst (kecemasan eksistensial, dengan cakrawala yang diilhami oleh senja yang merah, yang dilihat setelah letusan Gunung Krakatau pada 1883. Background  di dilukisan adalah Oslofjord, yang dilihat dari bukit Ekeberg. Kadang-kadang lukisan ini disebut juga The Cry ("Tangisan"). Medium lukisan the scream adalah kadmium kuning, merah terang dan biru laut yang dikerjakan diatas karton yang memiliki ukuran 91 x 73,5 cm. Pengerjaan lukisan ini dinilai cukup bagus karena Edvard berhasil menggabungkan berbagai warna yang membuat keserasian didalam lukisan ini menjadi hal yang menambah daya tarik dari karya lukisan ini serta dengan adanya sesosok manusia yang digambar dengan gaya yang unik membuat lukisan ini mempunyai ciri khas tersendiri.

2. Analisis karya
Lukisan ini memiliki banyak teori tentang maknanya salah satunya adalah keadaan Edvard ketika dia melihat langit yang berubah menjadi merah darah saat dia berjalan jalan diluar. Maka dapat disimpulkan bahwa sebetulnya lukisan ini adalah penggambaran perasaan Edard saat dia dirundung rasa cemas dan rasa panic yang menimpanya saat dia mendengar “Jeritan alam” dimana dia berusaha untuk menutup telinganya dengan kedua tengannya untuk tidak mendengar “Jeritan Alam” sehingga seolah – olah dia mengalami serangan panic. Posisi di mana ia melukiskan dirinya sendiri adalah reaksi refleks yang khas dari siapapun yang berjuang untuk menghindari suara yang menekan, entah suara yang sungguhan atau yang dibayang-bayangkan.

3. Kritikan Pada Karya Seni
Penilaian sebuah karya seni bukan berbicara mengenai baik atau buruk, salah atau benar melainkan mengenai pemaknaan tersebut meyakinkan atau tidak. Karya seni dapat dinilai dengan berbagai kriteria dan aspek, Barret, menyederhanakan penilaian karya seni ke dalam 4 kategori yaitu realisme, ekspresionisme, formalism, dan instrumentalisme. Lukisan ini memiliki ciri khas yang kemudian menambah nilai jual lukisan ini. Secara keseluruhan lukisan ini dapat dibilang sebagai lukisan yang luar biasa tetapi banyak juga yang bilang bahwa lukisan ini mengerikan karena penggambaran sosok manusia yang dapat dibilang “aneh” membuat banyak orang tidak menyukai lukisan ini. Meski begitu lukisan ini memiliki banyak penggemar dan menjadi salah satu lukisan yang paling unik didunia.
  
 Contoh 6:

LUKISAN BERKAH KARYA BUDIANA



Judul Karya           : “Berkah”
Nama Seniman       :    Budiana
Bahan                     :    Oil on Kanvas
Ukuran                   :    110 cm x 140 cm
Tahun Pembuatan  : 2014

1.    Deskripsi
              Karya lukis oleh Budiana yang berjudul “Berkah” masih memvisualisasikan bentuk dari lukisan tradisi dengan ciri khasnya tersendiri, yaitu figur manusia yang memiliki tubuh yang subur. Material subjeknya merupakan gambar tentang sepasang suami istri dengan tubuh yang subur tanpa alas kaki sedang berusaha memboyong keempat orang anaknya yang telihat subur pula dengan menggunakan sepeda ontel. Secara umum suasananya tampak sesak memenuhi badan sepeda yang terasa sempit dan menjadi kecil  karena tidak sebanding dengan postur tubuh anak-anak yang terlihat besar dan subur tersebut. Namun suasana dalam lukisan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa bagian. Suasana pertama, telihat ekspresi figur suami berusaha untuk menahan beban keempat anaknya agar tetap seimbang dan menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa semua anak-anaknya telah mendapatkan dan pada posisi aman (meskipun berdesakan). Suasana kedua, dilihat dari posisi figur anak yang duduk pada kemudi sepeda dan yang duduk pada tempat duduk pengemudi dengan ekspresi wajah yang penuh kekhawatiran berusaha untuk memegang tangan ayahnya agar tidak terlepas dan terjatuh. Suasana ketiga, figur istri/ibu yang sedang menempatkan anaknya pada bagian belakang (tempat duduk penumpang) sepeda yang telah ditempati oleh anaknya yang lainnya. Serta suasana keempat, figur anak yang terlihat terjepit diantara kedua saudaranya yang menghimpitnya dari depan dan belakangnya, namun terlihat tidak mampu berbuat apa-apa.

              Dalam lukisan Budiana ini, unsur tradisinya sangat kental, dilihat dari pemberian aksesoris busana pada figur suami istri serta anak-anaknya tersebut yang menggunakan busana khas Jawa, yaitu penggunaan baju batik, kemben batik, serta blankong penutup kepala yang dikenakan oleh suami dan keempat orang anak tersebut. Busana ini menyiratkan bahwa figur-figur yang ditampilkan oleh Budiana tersebut merupakan figur orang pedesaan (ndeso). Lukisan ini didominasi dengan warna kulit (coklat), kream (yellow oker), hijau serta warna hitam menjadi garis tepi pada setiap objek gambar.

2.    Analisis Formal
Refresentasi visual tampilan dengan bentuk figuratif, tertata, dan rapi, sesuai dengan konsep tradisi, meskipun tidak mengusung konsep dekoratif, namun objek materinya memiliki bentuk menyerupai lukisan gaya kamasan. Penggunaan gelap terang warna tidak terlalu mencolok dalam lukisan ini, tetapi Budiana memainkan garis untuk membentuk visual dua dimensinya. Keberadaan garis dalam lukisan ini, pada dasarnya berfungsi sebagai penegas bentuk, sehingga bentuknya dapat dikenali dengan baik. Garis-garis yang ada terlihat cukup luwes, lemah gemulai mengikuti bentuk yang berirama. Garis-garis tersebut mendeskripsikan batas-batas atau  kontras dari nada gelap terang, warna atau tekstur yang terjadi sepanjang batas-batas bentuk tersebut. Bangun (space) pada lukisan ini terjadi karena dibatasi oleh warna dan juga dibatasi oleh garis. Hal ini dapat diidentifikasi pada figur-figurnya, selain menggunakan warna-warna, seperti: coklat, kream (yellow oker), hijau, putih serta warna hitam yang hadir dalam lukisan ini yang menunjukkan suatu tanda pada bentuk yang membedakan ciri bentuk atau benda satu dengan yang lainnya. Tetapi lukisan ini juga dipertegas dengan adanya garis yang membentuk wujud dan batas dari bentuk dan anatomi tubuhnya. Warna background pada lukisan ini terlihat kontras dengan figur sebagai objek materinya, Namun, hal ini justru bernilai fositif, karena warnanya mendukung dan memberi ruang perhatian lebih pada objek materinya, karena warna backgroun-nya cenderung lebih lembut. Keseluruhan komposisi karya Budiana ini terlihat mampu menghibur penonton untuk berfikir tentang permasalahan di masyarakat saat ini.

3.    Interpretasi
              Setiap karya seni pasti mengandung makna, membawa pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat penontonnya, sehingga dibutuhkan interpretasi atau penafsiran untuk memaknainya yang sebelumnya didahului dengan mendeskripsikan. Dalam mendeskripsikan suatu karya seni, pendapat setiap orang dalam membaca karya seni bisa saja sama, namun dalam menafsirkan pasti akan berbeda karena akan melibatkan perbedaan paradigma atau sudut pandang.

              Dapat diidentifikasi, bahwa Budiana dalam berkarya selalu mengambil isu-isu yang tidak jauh dari lingkungan sosialnya. Hubungannya terhadap kegelisahan sosial, yang menjadi isu sosial bangsa ini selalu saja mampu menggugah perasaan dan kreatifitasnya untuk mewujudkan kegelisahan-kegelisahannya tersebut menjadi sebuah bentuk karya seni. Dengan menampilkan visualisasi figuratif dalam lukisan, ini menandakan bahwa Budiana sedang berusaha untuk menjalin komunikasi dengan masyarakat. Menyampaikan ide gagasan dengan materi dan bentuk yang sederhana merupakan strategi yang tepat mengingat apa yang ingin disampaikan Budiana bukanlah semata-mata hanya sekedar pemenuhan kepuasan estetisnya, namun lebih kepada pesan sosial kepada masyarakat. Dalam hal ini jelas bahwa, Budiana berusaha untuk mengungkapkan rasa kritisnya terhadap masyarakat Indonesia, terutama masyarakat yang masih awam (ndeso). Begitu banyak mitos yang tersebar dan hidup ditengah masyarakat, meskipun pengaruh modernitas dan teknologi telah berkembang di tengah-tengah masyarakat, namun tak sedikit yang masih mempercayai dan melakoninya hingga saat ini. Salah satu mitos kepercayaan itu diungkap Budiana dalam karya ini, yaitu “Banyak anak, banyak rezeki”. Mitos/kepercayaan ini telah ada sejak zaman dahulu, entah siapa yang pertama kali yang mengungkapkannya. Entah benar atau tidak, namun mitos ini seakan telah mendarah daging dalam kehidupan berkeluarga, menganggap semakin banyak anak, maka akan semakin banyak rezeki yang akan didapatkan.

              Hal inilah yang mungkin bisa saja menjadi dasar penciptaan karya “Berkah” Budiana. Dengan berbekal pengalaman sosial dan estetis, ia mencoba menvisualisasikan mitos tersebut dari sudut pandang yang berbeda dengan pengungkapan bentuk figur sebuah keluarga. Dimana Budiana tidak tanggung-tanggung mewujudkan figur-figur dalam keluarga tersebut dengan tubuh-tubuh yang subur (gemuk). Meskipun keluarga tersebut terlihat sederhana namun jelas mereka hidup berkecukupan terutama dengan masalah isi perut mereka seperti tidak kekurangan, bahkan cenderung lebih. Inilah figur atas mitos “Banyak anak, banyak rezeki” yang ada dibenak Budiana. Namun terlepas dari itu semua, tentu realitas yang ada tidak sebanding dengan apa yang ditampilkan oleh Budiana dalam karyanya ini. Budiana seolah inin memberi penyadaran kepada masyarakat, untuk berpikir dan bertidak sesuai dengan kenyataan, bukan hanya sekedar mendengar omongan yang belum tentu benar dan bermanfaat bagi kita.

4.    Penilaian
              Penilaian sebuah karya seni bukan berbicara mengenai baik atau buruk, salah atau benar, melainkan mengenai pemaknaan yang ditampilkan tersebut meyakinkan atau tidak. Penilaian keindahan suatu karya seni tidak hanya berdasar objek yang dilukis tetapi menyangkut isi dan makna. Karya seni tidak terlahir begitu saja, selalu berkaitan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang pernah dirasakan sebagai sumber inspirasi potensial, berupa pengalaman estetik. Hasil karya representasi dari emosi-emosi yang berkembang dalam masyarakat seperti karya Budiana, yang ingin merepresentasikan kemelut yang terjadi di tengah-tegah masyarakat Indonesia, termasuk merupakan keresahannya mengenai hal tersebut.

              Banyak memiliki anak, tidak ada jaminan akan memberikan hidup yang lebih baik, bahkan bisa membuat pusing. Pepatah “Banyak anak, banyak rezeki” memang benar adanya. Tapi banyak orang yang salah mengartikan. Banyak orang yang terjebak dengan pepatah ini. Dengan harapan akan bertambah rejekinya, banyak pasangan suami istri yang tidak peduli dengan jumlah anggota keluarga yang akan dimiliki dan berpikir bahwa setiap anak merupakan karunia Tuhan yang dititipkan kepada mereka. Sehingga banyak diantara mereka yang cenderung masa bodoh tanpa memikirkan masa depan anak-anaknya, yang tentunya dengan banyaknya anak yang dimiliki akan semakin banyak tanggungan dan biaya yang harus dikeluarkan oleh mereka untuk memberi makan dan biaya sekolah mereka. Tentunya, hal ini akan menjadi sulit dengan keadaan perekonomian yang pas-pasan, sehingga menyebabkan kehidupannya semakin terpuruk dengan beban yang dipikulnya. Adanya mitos seperti ini menjadi penghambat terbesar bagi program KB yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia untuk menekan laju pertumbuhan penduduk yang semakin membludak. Dengan membludaknya pertumbuhan penduduk akan menyebabkan semakin sempitnya lapangan pekerjaan, sehingga kemiskinan pun akan semakin meningkat, anak-anak mereka pun akan rentan terkena penyakit, terutama terhadap gizi buruk akibat dari kurangnya asupan nutrisi.

              Karya yang diciptakan Budiana ini, seolah menyindir sekelompok masyarakat tertentu yang masih setia dengan kepercayaan “Banyak anak, banyak rezeki”. Budiana ingin menunjukkan bahwa apa yang mereka bayangkan tidak seindah kenyataan yang ada. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam membangun rumah tangga. Memang betul bahwa, setiap anak yang dititipkan kepada kita akan membawa berkahnya masing-masing. Namun sebagai manusia yang cerdas haruslah kritis dan intropeksi diri apakah keluarga yang dibina memiliki dasar yang kuat terutama dalam hal perekonomian, agar tidak menyesal dikemudian hari.





20 comments:

  1. bantu kritik dong gambaranku,besok dikump

    ReplyDelete
  2. itu kritikannya buat sendiri atau dapat dari orang bang

    ReplyDelete
  3. Terimakasih atas ulasannya. Sangat membantu.

    ReplyDelete
  4. Ijin copy yaa, nanti sumbernya di taruh๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰

    ReplyDelete
  5. ka maaf boleh tau nama panjangnya ga???

    ReplyDelete
  6. aku izin copy ya kak dan tetap aku cantumin sumbernya

    ReplyDelete
  7. Bantu kritik dong lukisan "wanita diatas bukit" karya s sudjojono besok dikumpulkan

    ReplyDelete
  8. Evaluasi sama g si sama penilaian?

    ReplyDelete
  9. Izin copy ya kak, tetap aku kasih sumber yang buatnya tanpa diubah. Terimakasih ����

    ReplyDelete

POSTER PLANTAE